Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hari ini, sebenarnya pengen nulis tentang progress pertumbuhan dan perkembangan anak saya. Karena kebetulan lihat (dan juga gak sengaja denger) ada ibu-ibu ngumpul dan ngobrol depan rumah sambil beberapa bawa anak dan juga cucu mereka yang masih kecil (sekitar 1 atau 2 th-an).

Tak disangka yang berseliweran di pikiran bukan anak saya, malah tingkah polah dan obrolan ibu-ibu tersebut. Jadilah saya posting tulisan ini dulu, ngalah dulu ya dek Alif! Hihihi

Baca Juga :

Hari Natal Pertama Kali di Keluarga Kami

Birth Story Persalinan Normal

Jadi tulisan ini sebenarnya hanya sebuah curhatan ala-ala suami yang semoga didengar (dibaca –pent) oleh para istri-istri maupun ibu-ibu.

Bermula dari keresahan saya terhadap semakin maraknya kebiasan ghibah dan perilaku pamer yang sering dilakukan oleh para wanita, apalagi kalau sedang ngumpul.

Dari situ saya coba cari-cari artikel tentang bahaya ghibah dan pamer, pandangan Islam tentang ghibah dan pamer, bahkan sampai cari-cari jurnal atau artikel penelitian yang membahas topik ini (“gimana sih ghibah dan pamer ini dalam koridor ilmiah?”, pikirku.

Ternyata sudah banyak sekali yang bahas dan kupas tuntas bahaya dan dampaknya. Coba deh googling sendiri pakai kata kunci “bahaya ghibah”, pasti langsung ketemu.

Awalnya pengen saya kumpulin semua tuh, saya salin semua dan paste di tulisan ini biar makin komplit plit. Tapi ternyata malah ribet ngeditnya. (yang paham aja sih) Haha. Akhirnya saya ringkas saja dan rewrite di tulisan ini, simpel. Hehe

Sebelum saya tampilkan dalil-nya, saya pengen kritisi dulu ghibah dan pamer yang kebetulan dilakukan ibu-ibu depan rumah saya tadi. Barangkali di lingkungan temen-temen juga terjadi, siapa tau bisa jadi jalan dakwah untuk mengingatkan dan meluruskan.

Jadi, ibu-ibu tadi tuh kan bawa anak/cucunya, ada yang digendong, ada juga yang dinaikkan stroller. Sebelum ghibah, mereka saling pamer tuh “kelebihan dan kehebatan” yang dimiliki anak/cucu mereka masing-masing.

“Anakku ki rung enek setahun wes mloka mlaku ae, sampek kesel ngetutne” (Anakku ini belum genap satu tahun sudah pinter jalan mondar mandir, sampai capek ngikutinnya) kata si A.

Nek anakku rung enek 2 tahun wes tak biasakke pipis ning WC” (kalau anakku belum genap 2 tahun sudah saya biasakan buang air kecil ke WC) saut si B. ”Hla nek anakmu, mbak?” (Kalau anakmu mbak?) lanjut si B.

Gemes yo dadi kelingan ndue anak bayi, nek anakku saiki manager ng Bank Man*i*i. Alhamdulillah iso njatah aku mben sasi” (Gemes ya jadi inget punya anak bayi, kalau anakku sekarang manager di Bank Man*i*i. Alhamdulillah bisa rutin kasih uang tiap bulan) jawab si C.

Wah, sukses yo saiki. Gak koyok Mbok Nah, anakke 2 nganggur kabeh. Piya ya wi?”(Wah, sukses ya sekarang. Tidak seperti Mbok nah, anaknya 2 pengangguran semua. Gimana ya itu?) Srobot si A.

Dst…


Para istri dan ibu-ibu yang sholehah. Pernah denger percakapan di atas? Atau bahkan pernah berada di percakapan seperti di atas? Apa yang kalian rasakan? Apa yang kalian pikirkan? Semoga tidak.

Mungkin sekilas isi percakapan di atas tampak biasa dan wajar diutarakan ibu-ibu kalau sedang ngumpul. Tapi pernahkah temen-temen bayangkan, bagaimana perasaan Mbok Nah apabila mendengar percakapan itu? Bagaimana perasaan ibu-ibu lain yang kebetulan ada di tengah-tengah kumpulan itu tetapi kondisi anaknya tidak “se-hebat” anak-anak ibu?

Ayok lah ibu-ibu, jangan lagi begitu, tak sadarkah jika lisanmu bisa menyayat hati temanmu? Tak sadarkah jika kalimatmu bisa menghancurkan impian teman-temanmu? Stop ghibah, karena ghibah seperti memakan bangkai saudaramu sendiri. Ingat hadist ini :

“Dari Qais, dia berkata: ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anh melewati bangkai seekor bighol (hewan hasil persilangan kuda dengan keledai), lalu beliau berkata: “Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya sendiri (yang muslim)”.
[HR. Bukhari No.736]

See? Bayangkan, memakan bangkai seekor bighol (sejenis kuda) itu lebih baik daripada memakan daging saudaranya sendiri (ghibah). Masa gak jijik bayanginnya? Tidak hanya sampai di situ, selain menjijikkan, ternyata dampak ghibah juga meyeramkan. Coba ingat-ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini :

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Pada malam isra’ aku melewati sekelompok orang yang melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”, lalu aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?”. Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang mengghibahi manusia, dan mencela kehormatan-kehormatan mereka”.
[HR. Ahmad & Abu Dawud No.4878]

Subhanallah! Jika kalian teruskan kebiasaan menjijikkan itu, kalian juga akan merasakan pedihnya cakaran dari kuku-kuku kalian sendiri. Naudzubillah min dzalik!

Lalu, bagaimana dengan kebiasaan pamer? Menyombongkan prestasi-prestasi duniawi kita, memamerkan kehebatan-kehebatan kita? Hadist di bawah ini sudah sangat indah dan bijaksana menjelaskan kepada kita.

“Yang akan mengiringi mayit (hingga ke kubur) ada tiga. Yang dua akan kembali, sedangkan yang satu akan menemaninya. Yang mengiringinya tadi adalah keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali. Sedangkan yang tetap menemani hanyalah amalnya.”
[HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960]

Jadi, jelaslah bahwa teman sejati hanyalah amal. Tidak ada yang bisa kita sombongkan atau pamerkan, karena kelak yang menemani kita dalam kubur hanya amal kita. Bahkan keluarga dan harta kita akan pergi meninggalkan kita sendirian. Ya, sendirian, meninggalkan kita sendirian mengahadapi pengadilan Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itu, marilah kita saling mengingatkan dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan menyuburkan kebiasaan buruk seperti ghibah dan pamer.

Semoga segera datang masa di mana ibu-ibu ngumpul buat berbagi resep rahasia masakan sehat buat anak dan suaminya, bukan ghibah dan saling pamer prestasi dan kekayaan anaknya yang bisa menumbuhkan menyuburkan penyakit hati. Aamiin..

Demikian curhatan saya kali ini, semoga tulisan ini bisa dibaca oleh para istri dan ibu-ibu yang masih suka ghibah dan pamer kalau lagi ngumpul. Semoga Allah melindungi kita dari setiap keburukan, dan selalu merahmati kita dengan hidayah-Nya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ~Irfan

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *