“Buuuun, geeeraaah. Kakak ga mau pake jilbab!” ujarnya masuk rumah setelah berlarian dengan teman-temannya di luar.

Hampir setiap sore anak-anak di gang rumah kami bermain bersama. Bermain ‘tak besi’ (yang tidak pegang besi jaga), berkejaran dari satu pagar ke pagar lain. Terkadang juga bermain ‘tak nyamuk’, dan tentu saja bermain sepeda.

Siapa pula yang tak berkeringat berlari-lari seperti itu.

Begitu pula si Kakak.

“Hmmm..tapi di luar kan banyak yang bukan mahram, Kak. Memangnya Kakak ga malu?” tanya saya.

“Tapi kok Kakak A, Kakak B, Kakak C pada ga pakai jilbab, Bun?” tanyanya, menyebut anak-anak tetangga yang bermain bersamanya, usia mereka sebenarnya 3-5 tahun di atas Kakak (yang baru berusia 5 tahun). Memang, hanya si Kakak yang pakai jilbab saat bermain.

“Hmmm..bisa jadi belum dibiasakan sama Ibunya, Kak.” ujar saya.

Suasana hening sejenak. Kakak masih enggan mengenakan hijabnya karena gerah.

“Rambut Kakak sini Bunda kuncirin dulu. Kalau dikuncir insyaAllah ga terlalu gerah,” ajak saya.

Memang, rambut yang menempel di leher belakang akan membuat kepala makin ‘panas’.

“Hmm..sini deh! Kakak mau ga jadi agen kebaikan?” tutur saya bersemangat.

Si Kakak menatap saya, dahinya berkerut, mungkin memikirkan apa maksudnya.

“Rasulullah ﷺ bilang kalau kita memberi petunjuk kepada orang lain, terus oranglain itu jadi ikut melakukan kebaikan seperti kita, itu lebih baik daripada dapet unta merah, Kaaaak,” saya menjelaskan berseri-seri.

“Kok untanya merah?” tanyanya.

“Duluuu, di zaman Rasulullah, unta merah itu semacam kendaraan yang paling keren gitu, Kak. Harta yang paling berharga untuk orang Arab di zaman itu. Hmmm..kalau sekarang kaya mobil apa yaa? Ehh, ngga mobil ding, pesawat pribadi. Bahkan lebih dari itu bisa jadi, Kak.” ujar saya.

“Jadiii..misal nih, Kakak terus pakai jilbabnya saat main, teruuuus Kakak A, B, C, besok-besok ikutin Kakak pakai jilbab juga, insyaAllah Kakak dapet yang lebih baik daripada unta merah,” ujar saya lagi.

Si Kakak beranjak.
Dipakainya kembali jilbabnya.
Ia pun kembali bermain dengan hati riang.

Malamnya,
“Bang..Bang..tahu ga? Kakak mau jadi agen kebaikan tau, Bang. Kakak kan kalau main pakai jilbab terus kalau nanti Kakak A, B, C, ikut pakai jilbab insyaAllah nanti Kakak dapet yang lebih baik daripada unta merah.” Si Kakak bercerita dengan senangnya pada si Abang.


Alhamdulillah, kisah singkat di atas bukanlah hanya sebuah kisah fiktif yang imajinatif. Namun memang benar adanya kisah yang dialami saudara kita, bunda Julia Sarah Rangkuti. Lihat postingan beliau di sini ⤵️
https://www.instagram.com/p/CGj_eFKB9NW/?igshid=n2kco1ceew77

Dari kisah itu kita belajar banyak. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Artinya: “Demi Allah, sungguh bila ada SATU orang saja yang diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik (bagimu pahalanya) dari pada (mendapat) Onta merah.
[Riwayat Bukhari no. 3701 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa’ad].

Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah– memberikan penjelasan yang sangat baik dalam hal ini. Beliau –rahimahullah– mengatakan: unta merah yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah harta teristimewa di kalangan orang Arab kala itu. Dalam hal ini Nabi ﷺ menjadikan Onta merah sebagai permisalan untuk mengungkapkan berharganya (mulianya) nilai suatu perbuatan. Dan memang saat itu tidak ada harta yang lebih istimewa dari unta merah. Sebagaimana pernah dijelaskan bahwa permisalan suatu perkara akhirat dengan keuntungan hasil dunia ini hanyalah untuk mendekatkan pemahaman (agar mudah dipahami). Dan tentu saja balasan pahala di akhirat itu lebih besar dari kenikmatan dunia yang ada saat ini. Demikianlah maksud dari setiap gambaran yang biasa disebutkan dalam hadits. Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang keutamaan ilmu. Juga dalam hadits ini dijelaskan keutamaan seseorang yang MENGAJAK pada kebaikan. Begitu pula hadits itu menjelaskan keutamaan MENYEBARKAN sunnah (ajaran agama Islam) yang baik.”
[Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj (15/178)].

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya sebuah pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.
[HR. Muslim no. 1893]

Seperti itulah dakwah, mengajak kepada kebaikan, pelakunya akan mendapat pahala jariyah.

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
[Al-`Ashr (103) : 1-3].

Dan kuncinya, dakwah ini bukan tentang berapa triliyun orang yang sudah mendapat hidayah di tangan kita, bukan, karena itu urusan Allah, itulah hidayah taufiq.

Tugas kita adalah seberapa banyak orang yang sudah kita ajak, karena memang kita tidak mungkin memaksa mereka untuk mengikuti al-haq, semua orang punya pilihan dan akan bertanggung jawab menerima konsekuensi atas pilihannya yang pernah ia anggap bijak.

Semangatlah mempelajari dinul islam yang murni, semangatlah mengamalkannya dan bersemangatlah mendakwahkannya kepada keluarga, kerabat, dan saudara agar banyak manusia yang paham sunnah, mempelajari serta mengamalkannya.

Teruslah mengajak kepada kebaikan yang akan berbuah omset kebaikan akhirat. Teruslah menebar hidayah, yaitu hidayah al-bayan wal irsyad, yaitu upaya memberikan bimbingan dan penjelasan, MESKIPUN KITA BUKAN USTADZ, dan tugas ini tidak berkonsekuensi harus menghasilkan hidayah taufiq, karena hidayah taufiq itu hak Allah, Allah akan memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَلَتُسۡ‍َٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٩٣

Artinya: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”.
[An-Nahl (16) : 93].

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

Artinya,
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
[Al-Qashash (28) : 56]

Seorang yang mengajak kepada hidayah Allah tidak boleh berkecil hati ataupun bersedih apabila dalam berdakwah belum ada yang mau mendengar.

Allah Azza wa jalla tidak akan menyia-nyiakan pahala hamba-Nya. Allah akan meninggikan derajatnya dan mempersiapkan pahala yang terbaik baginya. Ia harus berprasangka baik kepada Allah. Barangkali hari ini orang lain menentang dan memusuhinya, mungkin besok, lusa atau seterusnga orang tersebut akan mau dan bisa menerima hidayah sunnah.

Selalu ingat, dakwah ini bukan ujug-ujug membludak dalam sekejap, di sana ada kerja keras tim-tim senyap, mereka menelaah kitab lalu menulis satu atau dua paragraph, mengolah video kajian sampai begadang dan tidurnya hanya sekejap, mendesain poster dakwah lalu menerbangkannya ke berbagai media tanpa sayap.

Jika kita kesulitan mengambil bagian ini karena dalam teknologi terlalu gagap, kita bisa berdakwah juga dengan sikap. Allahu A`lam.

Akhirnya, kita berdoa kepada Allah tabaaraka wa ta`ala, semoga Allah memberi kemudahan bagi kita untuk berdakwah mengajak kepada kebaikan, kepada Islam, kepada Aqidah yang lurus, kepada cara beragama yang benar, kepada cara beragamanya para sahabat Nabi ﷺ.

➖➖➖➖➖
REFERENSI :
➖➖➖➖➖
http://minhajussunnah.or.id/khutbah-jumat/onta-merah-dalam-dakwah/

https://rumaysho.com/1271-lebih-sekedar-dari-unta-merah.html

https://muslim.or.id/20462-lebih-baik-daripada-onta-merah.html

http://minhajussunnah.or.id/nasehat-hati/teruslah-mengajak-kepada-kebaikan/

https://www.instagram.com/p/CGj_eFKB9NW/?igshid=n2kco1ceew77

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *