Bismillah. Jadi ceritanya saat awal-awal hijrah dulu, saat semangat ibadah menggebu, saat masih suka banget sok ngoreksi ibadah orang lain, saat itulah setan justru makin semangat juga membisikkan hasutannya.

Contoh, dulu saya sensi banget sama orang (laki-laki) yang katanya sudah hijrah tapi sholat berjamaah ke masjid masih bolong-bolong semaunya sendiri. Sok bikin status dakwah, tapi sendirinya sholat gak dijaga. Padahal salah satu penentu amal seseorang baik/tidak dilihat dari sholatnya.

Jadi, kalau ada orang yang seperti itu langsung saya cap munafik. Naudzubillah, iya dulu saya pernah separah itu.

Tapi sekarang, setelah sedikit belajar. Saya benar-benar kapok dan malu jika masih nekat main judge seperti itu. Kenapa? Karena..

Karena memang, ada banyak faktor yang menyebakan seseorang mendapat udzur syar’i untuk tidak sholat berjamaah di masjid. Misal sedang sakit, hujan, anak/istri sedang sakit, sedang lapar dan makanan sudah tersaji, kebelet buang hajat, nafas/badan masih dalam keadaan bau, dalam keadaan yang memberatkan atau mengkhawatirkan, dan lain lain yang sejatinya kita tidak tau persis kondisi si fulan yang sedang kita persangkakan.

Penjelasan singkat beserta dalilnya bisa cek di tautan ini > [10 Udzur Syar’i Meninggalkan Sholat Berjamaah di Masjid]

Bahkan, diluar udzur syar’i tersebut kita juga harus ingat satu hal yang PASTI, masjid tempat sholat berjamaah nggak cuma 1 tok. Penting sekali ini digarisbawahi, karena seringnya kalau kita lihat si fulan sering sholat di masjid A terus sekali dua kali gak nampak terlihat di masjid A, wah biasanya langsung tuh setan bisikin nyuruh berprasangka buruk.

Baca juga :
Beragamalah Biasa-biasa Saja, Jangan Fanatik!

Kalau sudah berprasangka buruk, pasti muncul penyakit yang menyertainya yaitu tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Padahal tajassus itu masuk deretan dosa besar, loh!

Allah Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Selaras dengan ayat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” [HR. Bukhari No. 6064]

Nah, sudah jelas kan? Jadi dosa besar nggak cuma berzina, membunuh orang, dsb. Bahkan sikap tajassus juga termasuk dosa besar, maka hati-hati.

Selain karena dosa besar, sebenarnya berprasangka buruk dan mencari kesalahan orang lain itu merugikan kita, loh! Kok bisa? Bisa kok! Dengan berprasangka buruk dan mencari kesalahan orang lain kita jadi rugi waktu.

Iya rugi waktu, karena yang harusnya bisa kita gunakan untuk berdzikir, jadi habis kebuang waktunya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Kalau udah ada sih mending, kalau masih nyari kan lama. Iya kalau ketemu, kalau nggak kan jadi berlipat-lipat ruginya.

Di atas tadi  hanya salah satu contoh, yaitu prasangka kita ke orang lain tentang sholat berjamaah ke masjid. Padahal celah berprasangka buruk nggak cuma dari situ, masih banyak lagi. Dari mulai prasangka tentang jenggot lebat, wanita bercadar, orang yang nggak mau tahlilan, nggak mau maulid-an, dan lain sebagainya.

Hentikan Kebiasaan Berprasangka Buruk ke Orang Lain Sekarang Juga!


Intinya saran saya gunakan waktu kita yang berharga ini untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat, contohnya berdzikir.

Baca juga :
Birth Story Persalinan Normal

Kalau memang belum terbiasa berdzikir di setiap waktu, maka waktunya akan sangat berguna untuk memikirkan aib/kesalahan sendiri. Itu jauh lebih baik dan bermanfaat daripada memikirkan & mencari-cari aib orang lain.

Jangan sampai “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.” Tapi memang, itulah kita, seringnya memikirkan aib orang lain. Padahal hanya sedikit aib mereka yang kita tahu. Sedangkan aib kita, kita sendiri yang lebih mengetahuinya dan itu begitu banyaknya. Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

➖➖➖
Irfan Abu Alif.
Ditulis di rumah tercinta, sambil menemani Alif yang masih bobok.
23 Februari 2021 (10 Rajab 1442 H.)

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *