Assalamu’alaikum.
Salam kenal semua, saya Irfan. Mungkin ini tulisan pertama saya di blog ini. Tulisan-tulisan sebelumnya mungkin baru curhatan-curhatan istri saya. Kami berdua memang sedang antusias belajar nulis (ngeblog). Jadi mohon maklum ya kalau tulisan/bahasanya rada semrawut hehe.

Jadi langsung saja pada tulisan kali ini saya pengen bahas suatu topik yang mungkin bagi sebagian orang tabu untuk didiskusikan atau diperdebatkan, yaitu tentang hukum mengucapkan selamat natal bagi muslim kepada rekan/partner nya yang Nashrani. Mumpung hari ini tepat H-1 sebelum tanggal 25 Desember, jadi semoga dengan tulisan ini temen-temen bisa ambil hikmah dan faidahnya.

Hari ini, tepatnya mulai pagi tadi saya temui banyak sekali berseliweran di medsos, mulai dari FB, Instagram, sampai status WhatsApp teman & keluarga yang asyik sekali memperdebatkan tentang ucapan selamat natal. Ada yang bilang haram, makruh, dan juga tak sedikit yang membolehkannya karena dengan landasan toleransi.

Sebenarnya masalah ini sudah lama sekali menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak yang sudah mengadakan kajian, diskusi ringan, bahkan sampai diskusi ilmiah. Tapi sampai detik ini perdebatan itu setiap tahun selalu terjadi. Dan yang sangat disayangkan, beberapa orang sampai tega menyakiti dan mengolok-olok teman atau bahkan keluarganya sendiri dikarenakan perbedaan pendapat. Ironi memang. Tapi faktanya masalah seperti itu rutin terjadi setiap tahun. Subhanallah.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya hanya ingin berusaha mengemukakan pendapat pribadi saya berdasarkan hasil diskusi, riset kecil-kecilan, maupun dalil-dalil dari Al-Quran dan Hadits. Semoga bisa menjadi bahan rujukan dan pencerahan untuk temen-temen yang sampai detik ini masih buntu dan butuh pencerahan dan solusi konkrit.

Oh iya, sebelumnya bagi temen-temen yang baru membaca di blog ini, sila baca dulu Disclaimer di laman ini ya > [Disclaimer Page]. Disitu sudah saya tuliskan beberapa sanggahan apabila terjadi perbedaan pendapat di antara kita. Jadi bisa meminimalisir kesalahpahaman. Okay?

Balik lagi ke topik, jadi sebenarnya sebelum kita memperdebatkan masalah ucapan natal ini, alangkah lebih bijaksana kalau kita sama-sama berangkat dari definisi. Sebenarnya apa sih Hari Natal itu?

Saya cari di situs rujukan definisi paling umum, Wikipedia. Saya temukan bahwa definisi Natal adalah “kelahiran” (berasal dari bahasa Portugis).[1]

Selanjutnya saya juga coba cari di situs lainnya, ketemu di Situs Natal Indonesia. Definisi Natal yaitu “lahir“.[2]

Saya coba cari-cari di situs-situs lain, ternyata hampir semua situs mendefinisikan Natal adalah “kelahiran“.

Jadi sebenarnya definisi dasar dari kata “natal” adalah “kelahiran”. Hal itu sejalan dengan referensi materi sewaktu kuliah saya dulu, kalau tidak salah mata kuliah Perkembangan Motorik, disitu pernah di bahas tentang fase-fase perkembangan motorik manusia. Salah tiganya adalah fase Pre-Natal (sebelum kelahiran), Natal (saat kelahiran), dan Post-Natal (pasca kelahiran). Dari situ bisa saya asumsikan bahwa memang definisi natal adalah kelahiran.

Selanjutnya dengan tambahan kata “Hari” di depan, menandakan bahwa Hari Natal adalah sebuah perayaan. Yang kalau digabung definisinya menjadi Hari perayaan kelahiran.

Setelah tau definisi Hari Natal, lantas muncul lagi pertanyaan. Merayakan kelahiran siapa?

Mulai abad ke-3, Hari Natal ini dihubungkan dengan kelahiran Yesus (yang bagi teman-teman Nashrani dianggap sebagai Tuhan). Pada kalender Philocalian tahun 336, 25 Desember disebut sebagai Natus Christus in Betlehem Judeae. Sepertinya tanggal ini dipilih untuk mengganti hari raya pemujaan matahari yaitu Natalis Solis Invicti.[3]

Kenapa saya bilang “sepertinya“? Karena memang sampai saat ini saya belum menemukan referensi yang pasti mengatakan bahwa Yesus memang benar-benar dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Hal itu diperkuat oleh fakta bahwa di beberapa daerah ada yang merayakan Hari Natal pada 6 Januari (Armenia) dan 7 Januari (Ortodoks Timur).

Kalau memang Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember, kenapa perayaan nya berbeda-beda? Mungkin temen-temen yang Nashrani dan kebetulan membaca tulisan saya ini bisa bantu jelaskan ke saya, barangkali memang saya yang kudet (kurang update). Hehe

Namun demikian bukan berarti saya sama sekali tidak berusaha mencari informasinya (tabayyun). Saya menemukan satu artikel yang cukup panjang yang menjelaskan detail tentang Tanggal Pasti Kelahiran Yesus, yang disertai hasil penelitian para ahli Alkitab. Saking panjangnya, temen-temen bisa coba baca dan pahami sendiri di laman ini > [Tanggal Pasti Kelahiran Yesus].

Intinya, pada penjelasan di laman tersebut, mendapatkan kesimpulan bahwa Yesus lahir pada tanggal 11 September. Nah loh!?

https://www.jawaban.com/read/article/id/2013/9/7/90/130905160111/Yesus-Lahir-11-September%3F.html

Sehingga dari laman itu saya belum bisa ambil kesimpulan final apakah benar Yesus lahir tanggal 25 Desember atau tidak.

Maka dari itu kita hindari perdebatan tentang hal itu dan lanjutkan tentang asumsi saya, bahwa bisa saya ambil kesimpulan sementara Hari Natal adalah sebuah perayaan pada tanggal 25 Desember yang dilakukan oleh umat Nasrani untuk memperingati hari kelahiran Yesus (yang pada faktanya belum ada kepastian bahwa apakah benar Yesus lahir tanggal 25 Desember atau tidak).

Sampai di sini sebenarnya tidak ada masalah. Bagi umat Nashrani mempercayai bahwa tanggal 25 Desember adalah kelahiran Yesus, dan menetapkan hari itu sebagai perayaan keagaaman adalah sebuah kewajaran dan bisa kita terima bersama. Bahkan hak mereka merayakannya dilindungi oleh UU.

Masalahnya muncul ketika umat Muslim ikut mempercayai dan bahkan ada yang ikut merayakannya (ikut serta dalam acara perayaannya). Subhanallah!.

Teman-teman saudara muslim sekalian. Ketauhilah, mempercayai bahwa Tuhan lahir pada tanggal 25 Desember adalah masalah besar pada aqidah kita. Karena sudah jelas, dalam [QS. Al-Ikhlas (112) : 3] disebutkan bahwa Allah (Tuhan) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Jadi mustahil Allah itu dilahirkan.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman:

لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ 
lam yalid wa lam yuulad

“(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 3)

Jadi, dengan mempercayai apalagi ikut merayakan Hari Natal, berarti telah mengingkari ayat Al-Quran. Dan siapa yang telah mengingkari ayat Allah maka dia kafir. Bahkan pada hari kiamat kelak dikumpulkan dalam keadaan buta. Dia tidak dapat melihat jalan kemenangan dan jalan kebahagiaan.

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126

Artinya:

Berkatalah ia, “Ya Tuhanku! Mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman, “Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu (pula) pada hari ini, kamupun dilupakan (tidak diperdulikan)”. (Q.S Taha: 125-126)

Ayat-ayat di atas sebenarnya adalah hujjah yang sangat kuat kenapa kita umat Muslim dilarang mengucapkan selamat natal kepada umat Nashrani. Namun demikian, ada kelompok yang menjadikan alasan toleransi sebagai dalih pembenaran. Menurut mereka, mengucapkan selamat natal hanya sebuah ucapan untuk memupuk persaudaraan dan menguatkan rasa toleransi. Mungkin mereka lupa, bahwa dulu mereka ber-Islam juga hanya dari ucapan. Lantas kenapa tidak mereka murtad juga hanya dari ucapan?

Inilah yang menjadikan perdebatan tentang ucapan selamat natal menjadi masalah abadi yang terjadi di setiap tahunnya. Semua pihak punya dasar pembenaran masing-masing. Namun menurut saya pribadi, ada satu hal menarik tentang perdebatan yang terjadi, yaitu kalau teman-teman mau perhatikan. Mayoritas masalah/perdebatan yang terjadi justru ada di kalangan umat Muslim sendiri!

Bayangkan, ini persoalan tentang perayaan keagamaan umat Nashrani, kenapa hampir setiap tahun kita umat Muslim yang saling berdebat? #ThinkAgain

Mungkin hal itu bisa jadi renungan kita bersama. Bisa jadi bahan instrospeksi masing-masing dari kita, untuk lebih “mendinginkan kepala“.

Dari situ saya memberanikan diri untuk mengambil kesimpulan dan sikap. Bahwa sebenarnya masalah ini hanyalah kesalahpahaman. Masalah ini hanyalah ekor dari sebuah keyakinan yang mengakar tanpa sebuah landasan yang kuat. Maka dari itu, saya pribadi mengusulkan untuk teman-teman pembaca blog ini pada khususnya, dan para masyarakat pada umumnya.

1. Bagi teman-teman Nashrani. Silahkan rayakan Hari Natal sesuai keyakinan temen-temen. Tidak ada intervensi dan bahkan hak teman-teman untuk merayakan/memperingati Hari Natal dilindungi UU. Tapi satu yang perlu temen-temen garisbawahi, kuatnya keyakinan kami untuk tidak mengucapkan selamat natal murni didasarkan pada ketaatan kami pada Ayat Allah seperti saya singgung di atas. Jadi lebih ke urusan aqidah (Islam) bukan karena kami tidak menghargai ataupun perasaan-perasaan negatif lainnya.

2. Bagi teman-teman Muslim. Marilah luruskan niat dan keyakinan kita agar aqidah (Islam) tetap terjaga. Agar kita tidak terjerumus perilaku tasyabbuh (menyerupai kaum kafir). Seperti sabda Rosulullah ﷺ :

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)
[4]

Bayangkan betapa meruginya kita jika sudah tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ. Siapa lagi yang akan memberi syafaat kita ketika hari pembalasan kelak? Naudzubillah mindzalik.

Dan bagi temen-temen Muslim yang mungkin masih kekeuh menjadikan toleransi sebagai hujjah pembenaran tasyabbuh ini, marilah sama-sama kita kaji lebih dalam lagi seperti apa itu konsep toleransi. Mungkin akan saya tulisakan pada kesempatan lain. Pada tulisan kali ini, konsep paling sederhana dan paling tepat bisa saya gunakan untuk menjelaskan konsep toleransi adalah Ayat Allah Subhanallahu wa ta’ala :

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
lakum diinukum wa liya diin

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)

Ayat tersebut sudah mewakili tingkatan toleransi yang paling tinggi. Bagi mereka umat Nashrani, ya biarkan mereka melaksanakan ketentuan agama mereka tanpa ada intervenai dari kita. Dan bagi kita umat Muslim, ya patuhi agama Islam dan segala syariat yang melekat. Islam sudah sempurna, tidak perlu ditambahi ataupun dikurangi lagi. Itulah toleransi.

Namun berbeda jika membahas urusan duniawi (semisal bermuamalah). Kita umat Muslim diperbolehkan bermuamalah dengan umat Nashrani pada urusan duniawi. Misal berpartner, bertetangga, berteman baik, gotong royong, kerja bakti, dlsb. Karena tidak ada kaitannya dengan aqidah kita, maka kita diperbolehkan berhubungan baik dengan mereka (hablum minannas).

Allah Subhanallahu wa ta’ala berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 36 yang berbunyi:

وَاعْبُدُواْ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
[QS. An-Nisa (4) : 36]

Dari ayat tersebut jelas bahwa umat Muslim diperintahkan untuk berperilaku adil dalam bentuk hubungan baik dengan Allah (hablum minallah) dan juga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas). Jadi jelaslah, bahwa hujjah mereka umat Muslim yang menggunakan toleransi sebagai landasan melakukan perilaku tasyabbuh tertolak. Karena toleransi bukan diwujudkan dengan mengorbankan aqidah (Islam), melainkan dengan konteks duniawi sesuai syariat Islam.

Bahkan dalam salah satu riwayat [5] Imam al-Bukhâri rahimahullah telah meriwayatkan dalam kitab al-Buyû’ Bab asy-Syirâ` wal bai’ ma’al Musyrikîn wa ahli al-Harb dari Abdurrahmân bin Abi Bakar Radhiyallahu anhu beliau berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” بَيْعًا أَمْ عَطِيَّةً؟ – أَوْ قَالَ: – أَمْ هِبَةً “، قَالَ: لاَ، بَلْ بَيْعٌ، فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً

Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang musyrik berambut panjang sekali (atau berambut acak-acakan) membawa kambing yang digiringnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Silahkan dijual atau diberikan? Atau dihadiahkan.” Maka ia menjawab: “Tidak. Tapi dijual.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli darinya seekor kambing.”
[Shahih al-Bukhâri  4/410 no. 2216].

Dari riwayat tersebut kita bisa tahu bahwa Rasulullah ﷺ memang pernah bermuamalah dengan orang musyrik, dan itu memang diperbolehkan (dalam hal muamalah / duniawi).

Terakhir saya ingin sampaikan satu fakta menarik terkait fenomena perdebatan ucapan selamat natal ini, sebagai penutup tulisan saya ini. Bahwa, jika kita mau perhatikan, sebenarnya dari pihak umat Nashrani sendiri tidak ada “permintaan” secara khusus kepada kita umat Islam untuk memberikan ucapan selamat natal. Tapi fakta di lapangan menunjukkan hampir semua masalah perdebatan topik ini akar atau muasal masalahnya justru dari kalangan umat Muslim.

Nah loh, kok bisa begitu? Jika boleh berandai-andai mungkin teman-teman kita yang Nashrani mbatin gini, “kita aja yang ngerayain biasa aja, kenapa situ yang ribet?!”

Mungkin sampai sini dulu tulisan saya, akan saya sambung lagi di lain kesempatan. Semoga tulisan ini bisa menstimulus kita untuk bisa berdiskusi lebih dalam, dan semua yang saya sampaikan bisa diambil hikmah dan faidahnya. Aamiin.

Segala pertanyaan, sanggahan dan yang lainnya bisa temen-temen sampaikan pada kolom komentar.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Ngawi, 24 Desember 2019
~Irfan

=== REFERENSI ===

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Natal

[2] [3] https://natal.sabda.org/faq-page/apakah_definisi_natal

[4] https://rumaysho.com/3076-mengikuti-gaya-orang-kafir-tasyabbuh.html

[5] https://almanhaj.or.id/9478-muamalah-dengan-orang-kafir.html

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *