Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

UPDATE!

Birth Story versi istri saya sudah di publish juga,loh! Langsung baca ya di sini : Birth Story Persalinan Normal

Saya cari di situs rujukan definisi paling umum, Wikipedia. Saya temukan bahwa definisi Natal adalah “kelahiran” (berasal dari bahasa Portugis).[1]

Jadi, pada tulisan kali ini saya akan sedikit bercerita tentang Hari Kelahiran Anak Pertama Kami, atau dalam istilah lain Hari Natal Anak Pertama Kami.

Sebelum cerita, saya ucapkan Alhamdulillah, anak pertama kami telah lahir pada Hari Selasa 7 Januari 2020 M (11 Jumadal Ula 1441 Hijiriah). Saking bahagia dan bersyukurnya, istri sampai tak sempat meluangkan waktu untuk menulis pengalaman bahagianya tersebut di weblog, jadilah saya yang sempatkan tulis. Itupun disela-sela istirahat gendong si debay, hehe. Jadi mohon maaf ya kalau nanti ceritanya terkesan lompat-lompat, insyaaAllah di lain kesempatan akan kami lengkapi detail dan penjelasannya. Kali ini kami hanya ingin mengabarkan berita bahagia ke temen-temen semua.

Singkat cerita, setelah melalui kisah dan perjuangan panjang selama 9 bulan mengandung [baca kisahnya disini], alhamdulillah Allah percayakan istri saya untuk melahirkan seorang anak laki-laki yang harapan kami bisa mejadi anak sholeh dan berbakti pada Allah dan orangtuanya, aamiin.

Flashback beberapa hari sebelum kelahiran, tepatnya tanggal 4 Januari 2020, sebenarnya istri saya sudah mengeluhkan kontraksi yang beda dari biasanya, mungkin temen-temen yang pernah hamil paham maksud saya. Ciri-cirinya berbeda dengan “kontraksi palsu” yang sering istri saya alami, hari itu “sakitnya” bukan main dan frekuensinya cukup tinggi.

Jujur saya panik, karena memang HPL (Hari Perkiraan Lahir) masih tanggal 15 Januari 2020. Memang sih HPL bukan Hari Pasti Lahir, atau Hari Paksa Lahir, hanya perkiraan. Tapi espektasi kami tidak akan jauh dari tanggal tersebut. Walhasil, saat istri sudah mengeluhkan kontraksi yang beda dari biasanya, saya langsung bergegas siapkan dan cek “Tas Hamil” yang memang sudah dipersiapan istri saya jauh beberapa bulan yang lalu. Maklum, kehamilan pertama, harus penuh persiapan dan perhitungan, hehe.

Berhubung hari itu Hari Sabtu malam, dan kebetulan istri bilang kalau masih bisa meng-handle rasa sakitnya, maka kami putuskan untuk menunda pergi ke provider (tempat penyedia layanan persalinan). “Sisan besok saja“, kata istri. Dengan segala pertimbangan, maka nurutlah saya.

Besoknya, Hari Senin tanggal 6 Januari 2020 dini hari sekitar pukul 3 pagi, istri kembali mendapatkan “serangan brutal” di area perut dan pinggang bagian belakang. Mulai panik lagi tuh saya, akhirnya iseng-iseng saya coba praktekkan “ilmu dari google” yang bilang kalau saat terjadi kontraksi hebat dan sakit di sekitar pinggang, maka kita sebagai suami bisa coba usap-usapkan telapak tangan kita kita di pinggul sebelah belakang, tepatnya di sekitar pangkal tulang ekor. MasyaaAllah, ternyata berhasil, it’s work!

Sayangnya, “serangan brutal” itu tidak menyerah begitu saja. Mereka semakin banyak mengerahkan “pasukan”, akhirnya istri menyerah dan saya juga harus mengakui kalau “ilmu dari google” masih kurang manjur. Tak pikir panjang, melihat kondisi fisik dan mental istri saya yang semakin lemah, saat itu juga sekitar pukul 03.15 AM saya bawa istri ke IGD Rumah Sakit dr Soeroto Ngawi.

Sesampainya di sana, qodarullah ibu-ibu dan mbak-mbak bidannya di PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) masih terlelap tidur. Terpaksa saya gedor-gedor pintu dan bangunkan mereka. Alhamdulillah ada satu bidan yang terbangun dan segera melayani kami. Akhirnya segera saya ceritakan dan setorkan “buku pink” ke bidan nya. Dan saat itu juga istri saya langsung mendapat tindakan.

Beberapa saat setelah masuk ruang tindakan, saya kaget mendengar jeritan istri saya yang memecah keheningan, sebuah jeritan kesakitan. Saya panik, saya khawatir penuh rasa takut dan curiga, “diapakan ya istri saya?” Su’udzon saya.

Akhirnya setelah selesai dilakukan tindakan, bidan keluar dan menjelaskan kalau ternyata istri saya sudah bukaan 1. FYI bagi temen-temen yang belum tau, jadi tahap-tahap persalinan/melahirkan, diantaranya dimulai dari bukaan 1 (jalan lahir yang sudah sekitar 1cm terbuka), hingga nanti bukaan lengkap (jalan lahir yang sudah terbuka sekitar 10cm).

Sehingga, karena istri baru bukaan 1 dan kata bidan proses dari bukaan 1 ke bukaan lengkap itu bisa sampai sepekan, maka saya putuskan untuk pulang agar istri bisa istirahat dan menunggu bukaan di rumah saja. Karena saran dari bu bidan di PONEK rumah sakit nya, kalau misal terjadi kontraksi lagi, tidak perlu langsung dibawa ke IGD, cukup dibawa ke klinik bidan desa terdekat agar memudahkan untuk pengecakan.

Singkat cerita, malam harinya di hari yang sama. Istri mendapat “serangan brutal” yang lebih brutal dari biasanya. Tapi saat itu saya melihat respon istri yang beda dari biasanya, dia mencoba keep calm seakan bisa meng-handle keadaan. Sebenarnya saya kasihan melihatnya menahan serangan itu, tapi saya coba hus’nudzon dan percaya dengan istri. Sehingga malam itu terasa begitu lama karena kami jadi sering terbangun dan tidurpun tidak nyenyak.

Esoknya, Hari Selasa tanggal 7 Januari 2020 sekitar pukul 03.20 WIB, istri minta dibawa ke bidan desa. Karena dia mulai menyerah dengan “serangan brutal” yang masih saja menyerang. Langsung saja, saya bawa istri ke bidan desa, dan minta diperiksa sudah sampai bukaan berapa. Setelah mendapat tindakan, ternyata saat itu istri sudah bukaan 4, masyaaAllah. Kaget, senang, panik, bercampur jadi satu. Akhirnya bidan memberikan pilihan, mau bersalin dimana, di sini (klinik bidan desa) atau di rumah sakit. Karena sebelumnya kami sudah rencanakan bersalin di rumah sakit, maka kami jawab di rumah sakit. Bu bidan pun menyetujuinya dan menyarankan agar rutin mengecek keadaan istri setiap 4 jam sekali. Kalau sudah ada tanda-tanda persalinan, sebaiknya segera bawa ke rumah sakit. Kamipun mengiyakan dan pulang.

Singkat cerita (lagi), sekitar pukul 08.15 di tengah-tengah kesakitan yang dialami istri saya, saya lihat ada rembesan air di sekitar paha istri. Saya kaget dan panik. Langsung dalam hati bilang, “ini pasti ketuban udah pecah“. Tak pikir panjang langsung pinjem mobil tetangga + sopirnya (maklum, baru bisa fasilitasi istri pake motor hehe). Langsung bergegas ke IGD Rumah Sakit dr. Soeroto Ngawi.

Sesampainya di sana langsung dilayani oleh petugasnya, saya bilang darurat karena ketuban sudah pecah, maka petugas tak banyak bertanya, segera dilakukan tindakan pemeriksaan. Benar saja, ternyata istri saya sudah bukaan 6 saat itu. Akhirnya saya putuskan untuk dilakukan tindakan lanjutan. Istripun mendapat perawatan intensif untuk segera dilakukan proses persalinan. Saya ingat waktu itu pukul 10.50 WIB. Sementara hanya menunggu yang bisa saya lakukan, sambil mengabarkan ke beberapa keluarga.

Saya singkat lagi ceritanya, setelah menunggu lebih dari 30 menit bersama keluarga (karena saat itu keluarga tidak boleh menemani ke dalam ruang persalinan), ternyata belum ada hasil juga, masih nihil, bukaan belum lengkap. Jika belum lengkap tidak bisa masuk ke proses persalinan. Akhirnya saya putuskan untuk saya tinggal sholat sebentar ke masjid rumah sakit. Dalam doa jelas fokus saya memohon kelancaran proses persalinan istri saya, dan semoga Allah berikan yang terbaik.

Usai sholat, saya bergegas kembali ke ruang tunggu bersama keluarga untuk memantau proses persalinan. Sesampainya di sana, saya disambut teriakan dari dalam ruangan salah satu dokter atau bidan (entahlah saya tak sempat memastikan), “ayo bu dorong lagi, dorong!“. Kaget dong, bahagia juga campur bingung. Mulut tak henti untuk berdzikir, dan memohon Allah berikan yang terbaik untuk keluarga kami.

Tepat pukul 12.10 WIB, keriuhan suasana persalinan dipecah oleh suara tangisan seorang bayi dan disusul teriakan bidan “12.10 laki-laki!“. Alhamdulillah. Kami sekeluarga tanpa komando langsung saling memandang dan memamerkan ekspresi bahagia masing-masing. “Akhirnya, anakku lahir!“, teriakku dalam hati.

Akhirnya ALIF ZAKI ANNAFIS terlahir di dunia. Selamat berjuang ya, nak! Meski kau telah terlahir di dunia, jangan sekali-kali meletakkan dunia dalam hatimu, letakkan selalu akhirat dalam hati dan dunia dalam genggamanmu.

Bahkan dalam sebuah riwayat, dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : [2]

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”
[Shahih HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288)]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela sikap tamak kepada dunia. Bahkan, Allâh Azza wa Jalla sangat merendahkan kedudukan dunia dalam banyak ayat-ayat al-Qur-an. Allâh Azza wa Jalla berfirman bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali ‘Imrân/3:185]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al-Hadîd/57:20]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [Ghâfir/40:39]

Demikianlah sedikit cerita pengalaman kami pada Hari Kelahiran Pertama di Keluarga Kami, atau dalam istilah lain “Hari Natal Pertama kali di Keluarga Kami“. Cerita pascapersalinan dan seterusnya saya sambung di tulisan yang lain ya. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita kami. ~Irfan

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

=== [REFERENSI] ===
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Natal
[2] https://almanhaj.or.id/12638-jadikanlah-akhirat-sebagai-niatmu-2.html

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *