Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Berawal dari keresahan dan komentar negatif dari “para netizen” di story WhatsApp saya, melahirkan tulisan berjudul “Beragamalah Biasa-biasa Saja, Jangan “Fanatik”.

Yang “bosen” baca tulisan-tulisan via story WhatsApp saya karena banyak dalil dan ngga “umum”, bisa baca tulisan saya di sini ya. Yang mau aja, nggak dosa kok kalau nggak mau. Tapi kalau udah baca, baiknya baca sampe akhir biar ngga su’udzon dan gagal paham.

Jadi gini temans. Semuanya hanya soal waktu, saya dulu juga mikir orang itu kok berlebihan banget dalam beragama (Islam), salaman aja nggak mau, pakai celana cingkrang kayak orang kebanjiran aja, liat orang pakai jubah hitam dan bercadar yang terpikir cuma 1, “teroris”.

Orang berjenggot itu pasti ikut aliran tertentu, sering nge-judge aliran ini sesat, aliran itu lebay, orang yang gak pacaran itu sok suci, dll. Masih banyak ketidaktahuan saya yg memunculkan pikiran negatif dan fitnah dalam hati ini.

Dulu mikirnya, aku sih Islam yang biasa aja, yang umum aja, nggak kayak mereka-mereka yg “fanatik”. Terus juga takut kalau dekat sama orang-orang yang “fanatik” itu, takut kalau dicuci otak atau didoktrin kayak berita-berita yang beredar di media.

Setelah sedikit demi sedikit belajar, alhamdulillah Allah tunjukkan kalau ternyata selama ini saya lah yang berlebihan dalam menilai apa yang tidak saya ketahui.

Mestinya dulu saya belajar dulu, cari tau dulu, bukan asal judge sesuka hati saya.
Nggak sesuai dengan apa yang saya tau, langsung saya anggap sesat. Astaghfirullah..
(Iya, dulu saya separah itu)

Dulu saya juga mikirnya, yang penting saya kan udah shalat 5 waktu, berbuat baik, semuanya kan tergantung niat, nggak usah lah lebay apa-apa dilarang, apa-apa dinilai bid’ah.

Ternyata…
Lagi-lagi saya yang berlebihan dalam menggampangkan ibadah. Banyak alasan yang saya buat-buat sehingga nggak pernah belajar agama, baca buku atau artikel yang islami dikit aja langsung eneg rasanya, males banget lah, enakan baca novel dong.

Setelah mulai kenal dan belajar agama, ternyata pengetahuan saya baru sekitar 0%. Udah hidup hampir seperempat abad di dunia tapi nggak kenal agama. Ibadah asal tau aja, asal niat baik aja.

Ternyata banyak yang saya belum tau dan banyak perilaku saya yang belum benar dalam ibadah. Saya jadi tau, kalau soal ibadah itu nggak bisa asal baik saja, semua harus belajar dulu, itulah kenapa penting banget belajar agama bahkan sejak dalam kandungan.

Kalau asal baik aja tanpa ilmu, hanya “katanya-katanya” atau “tradisi” alih-alih dapat pahala malah bisa-bisa dapat dosa.

Semuanya harus ada dasarnya (karena semua ada aturannya dari Allah), jangan asal ikut-ikut aja. Repot belajar sebelum beramal gapapa, tapi jelas yang kita lakukan ada tuntunannya.

Saya sering sharing soal agama itu bukan buat menyinggung siapapun, karena apa yang saya bagikan itu “umum” loh. Saya juga Islam yang “biasa” aja kok, nggak ikut organisasi tertentu, apalagi aliran tertentu.

Saya juga bukan pengikut/jamaah/fans ustadz atau kyai tertentu. Saya juga baru belajar, sekarang masih 0,00001% pengetahuan saya, itupun masih sering lupa, masih sering khilaf. (Ingetin dong kalau saya salah)

Baca Juga : Beginilah Kalau Ibu-ibu Ngumpul

Bukannya saya sok suci, sok-sokan nasihatin orang karena merasa sudah tinggi ilmunya. Merasa pendapatnya paling benar dan menyakiti kelompok Islam lain. Bukan..

Dalam beragama itu udah diatur semua mulai dari kita diciptakan sampai kita di panggil kembali nanti. Jadi nggak ada ceritanya pendapatmu atau pendapatku yang lebih baik.

Karena agama nggak butuh pendapat kita. Tugas kita cuma belajar, mengamalkan dan menjauhi larangannya. Gak masalah mau ikut organisasi apapun, tapi ajarannya itu pasti ya sama, sesuai Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kalau beda, ya berarti kurang belajar juga pasti.

Insyaa Allah nggak ada kok orang islam yang pengen memecah belah. Kalau orang ngaku Islam sih banyak. (Jangan tanya siapa, karena saya nggak tau, semoga saya bukan termasuk)

Satu lagi, dalam bersosial media, dilarang baper ya. Kalau baper, ya tinggal hapus kontak, unfollow, block dll. Tapi kalau masih jahil kepo-kepoin saya, itu bukan salah saya kalo ada yang baper. Yang penting jangan sampe jadi fitnah aja. Ya terserah sih sebenernya, cuma kasian diri sendiri kalau ternyata karena ketidaktahuan, malah jadi ngira-ngira dan jadi kepikiran terus padahal belum tentu benar.

Ingat, yang “umum” atau banyak dilakukan orang itu belum tentu benar ya. Makanya perlunya belajar agama, biar nggak asal ikut-ikutan tanpa ilmu.

Sampe sini masih ada yang ganjal? Boleh loh kita diskusi bareng. Sama-sama orang Islam, sama-sama merindukan surga, nggak baik kalau ngira-ngira. Semua butuh dipelajari dan klarifikasi.

Saya tulis artikel ini nggak berharap dipercaya sepenuhnya kok, apa-apa saja yang saya share juga hal-hal yang bersifat “umum”. Kalau masih ada yang nganggep nggak umum, ya memang wajar,

…sejatinya karena nggak ada Islam umum dan khusus, nggak ada Islam biasa dan luar biasa, semua sama aja, dasarnya sama, Al-Quran dan Al-Hadits.

Pemahamannya bisa beda, tapi bukan berarti dibiarkan begitu saja. Itulah gunanya punya teman dan guru ngaji yang “lurus”. Agar bisa belajar lagi bareng-bareng biar bisa sefrekuensi.

Saya sama sekali nggak ada niat pamer atau apapun, semua murni ingin berbagi dan klarifikasi. Jangan percaya sama saya. Percaya sama ilmunya, itu kan ada dalilnya, ya dipelajari lagi, diperdalam. Kalau saya salah, saya nggak akan segan minta maaf, silahkan ingatkan saya.

Sekali lagi saya tekankan. Jangan baper ya kalau soal agama. Cukup pelajari, pahami, amalkan. Masuk surga emang butuh perjuangan. Bukan cuma lawan corona aja yang butuh ikhtiar dan perjuangan.

Kalau dikasih tau pemerintah aja nurut, masa dikasih tau Allah sok-sokan gak tau. Atau udah tau tapi nekat. Astaghfirullah.

Mari kita saling mengingatkan. Jangan nunggu banyak ilmu baru mau dakwah. Lha kapan banyak ilmunya? Siapa yang jamin ketika kita “merasa” banyak ilmu tapi kita masih dikasih kesempatan buat dakwah? #ThinkAgain

Ngawi, 10 Mei 2020 ~Apriliana

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *